Sastra seperti halnya sebuah pesta, layak untuk di nikmati. Enjoy on this page \(^o^)/ Im Cinde Biduan Intan, 18th. Studied at faculty of language and art , Education Univercity Of Indonesian 2011.
Ada yang hilang dari seminggu ini
Ada Sapi tanpa ekor
Ada sepedah tak bersadel
dan ada cerita tanpa pendengarnya
Entah binasa dimana
Membawa lari jejakku yang berkabung
Mencuri nuraniku yang kembung oleh limbung
Melucuti anganku yang berduri derum
Hilang yang bawakan kemenangan
Sayang, tidurku berselimutkan rindu.
Sedang makanku bermenukan rindu.
Bahkan dalam sujudku yang tak khusyuk, kerinduan menghentak - hentak dahsyat di alam sadarku.
Hingga kini tak lagi tertampung.
Meluap deras ke semananjung petaka.
Lalu pada sanubari yang menerus rindu.
Aku hanya tinggal menghitung detik - detik sakaratulku.
Tiga… Dua… Satu…
Seketika dentuman raksasa terdengar menggema.
Itulah aku bersama rinduku yang kini mati.
Meledak hebat diruang semesta pilu.
Di singgasana reot ini,
ku putar memoarku semasa bocah
Betapa sebongkah kulit jeruk bali dapat ku gubah menjadi momobilan
Sambil menyenandungkan dodolidodolipret
Betapa gelak tawa begitu menggema di tanah lapang
Beradu dengan jerit tegang para pemain benteng-bentengan
Atau sesekali terdengar lantunan tembang dalam ritual permainan ucing sumput
hompipahalayumgambreng!
Betapa lincah kaki-kaki pemain boy-boyan tunggang-langgang menyelamatkan diri
Sambil tak lupa menyusun kepingan genting yang berhamburan
Betapa sondah telah mengkotak-kotakan rute perjalanan kita
Kini perjalanan ku sampai pada kotak terakhir
Waktu pun tak lagi shubuh, aku telah menghampiri senja
Memoar usang ini hendak ku bagi
Pada anak cucuku di kala ini
Agar ada penerus pemain gobak sodor
Agar kulit jeruk bali tak lantas bercokol di tong sampah
Agar jerit riang itu tetap membahana di tanah lapang
Bukan diruang penuh sekat yang konon bertarif tiap jamnya
Agar jeritanmu bebas menantang lawan
Bukan terpantul layar komputer 24 inch
Nak, bermain juga butuh langkah gesit
Bukan hanya terpaku melawan monster jahanam yang maya
—
DEBI (CINDE B.I.)—
CIBI (Cinde B.I)Bola mataku terlalu kecil tuk sembunyikan cinta yang besar.
Hingga ku pesan selusin bola matahari agar cintaku muat di kandungnya.
Sebelum turun serupa linangan airmata.
Mungkin airmata bahagia, mungkin jua airmata nestapa.
—
Cinde B. IntanNo editing! :D